Artikel, Rope

Tali Tambat Kapal : Pengertian, Fungsi dan Jenis-Jenisnya Untuk Mooring System

tali tambat kapal

Pengertian Tali Tambat (Mooring System)

Tali Tambat adalah tali yang berguna dalam sistem penambatan kapal di dermaga. Saat kapal harus berhenti di titik tertentu, baik itu di tengah laut atau di dermaga, pasti dibutuhkan mooring system atau penambatan yang kuat pada kapal supaya kapal tetap kokoh dan tidak bergerak. Pada saat inilah Anda membutuhkan yang namanya tali tambat.

Fungsi Menambat Tali Pada Kapal

Penambatan kapal biasanya disebut sebagai mooring system. Sesuai namanya, fungsi tali tambat ialah untuk penambatan kapal pada dermaga. Selain itu, tali tambat juga bisa dipakai untuk penarikan kapal yang dilakukan kapal lain, seperti tug boat atau kapal tunda.

Mengingat fungsinya untuk menambat, maka tali kapal ini harus bisa menahan kapal maupun bangunan terapung yang lainnya dari angin, gelombang atau arus di perairan. Perahu atau kapal bisa dibilang tertambat jika sudah terikat pada objek tetap, baik itu pada dermaga maupun dermaga apung.

Jenis Jenis Material Untuk Menambat Tali Pada Kapal

jenis material untuk menambat kapal

Material tali yang dipakai untuk tali tambat kapal sendiri selain berjenis wire rope, juga terbuat dari serat sintetis dan bahan alami, hingga campuran. Ada beberapa jenis tali tambat kapal berbahan alami, diantaranya ialah tali kapal dari pohon pisang liar yang dinamai Abaca. Jenis tali kapal ini memiliki sifat yang tahan basah, tahan air, dan mudah melengkung, karenanya masih bisa dipakai dalam ukuran yang kecil.

Selain tali Abaca, ada lagi tali tambat kapal manila. Kalau jenis tali tambat ini, dibuat dari tanaman Agava dengan sifat tak tahan lembab dan basah. Tali manila adalah salah satu jenis tali manila yang paling sering dipakai untuk menambat kapal. Sementara itu, tali tambat kapal hennep atau rami, bersifat gampang lapuk karena menyerap air. Berbeda lagi dengan tali sabut kelapa dan tali jute sebagai bahan pembuat karung. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak jenis-jenis tali kapal untuk menambat kapal sesuai materialnya, berikut ini :

A. Tali Natural/Alami

Seperti namanya, tali natural ialah tali tambat dengan material pembuatnya berasal dari bahan nabati atau serat tumbuhan. Tali jenis ini lebih cocok digunakan untuk menambat kapal berukuran kecil seperti kapal nelayan atau kapal speed boat yang tidak terlalu membutuhkan kekuatan tali. Beberapa diantaranya sebagai berikut :

  • Hemp Rope atau rami, tali kapal ini memiliki sifat gampang menyerap air, karenanya menjadi mudah lapuk. Adapun untuk meningkatkan daya tahan tali terhadap air umumnya diter agar tali ini menjadi kaku serta kekuatannya akan berkurang sampai 25%.
  • Tali sisal, adalah tali tambat yang dibuat dari pohon Agava, biasanya dapat menggantikan fungsi pada tali kapal manila. Memiliki sifat kurang tahan di udara yang lembab dan basah, memiliki karakter serat yang kaku dan mengkilat.
  • Tali sabut kelapa, memiliki sifat dengan tingkat daya renggangnya bisa sampai 50% lebih besar dibandingkan tali manila. Sayangnya, kekuatan tali tambat ini bisa dibilang lebih kecil, tapi lebih tahan air, serta ringan dan tetap mengapung walau tali dalam kondisi basah.

Baca Juga: Ketahui Jenis Jenis Tali Natural: Tali Manila, Tali Sisal, Tali Cotton, Tali Jute, Tali Rami

B. Tali Sintesis

Seperti namanya, tali ‘sintetis’ yaitu tali kapal buatan yang umumnya diaplikasikan pada kapal, contohnya seperti tali tambat kapal polyethylene, dacron, serta tali nilon. Namun biasanya yang paling sering dipakai ialah tali nilon. Sama halnya dengan tali natural, tali sintesis juga cocok digunakan untuk menambat kapal berukuran kecil hingga berukuran sedang. Seperti kapal pesiar berukuran kecil atau sedang yang biasa digunakan untuk berlibur.

Tali nilon memiliki banyak kelebihan, diantaranya :

  • Tali sintetis jenis ini telah melewati proses pembuatan dengan memakai mesin. Mempunyai karakteristik serat mengkilap dan halus, sehingga tidak gampang lapuk dan tampak lebih bersih.
  • Tali tambat nilon mempunyai kekuatan hingga 1,5 bahkan 2,5 kali lebih kokoh dibandingkan tali manila. Ketika basah maka kekuatannya sekitar 83% dibandingkan dalam kondisi kering. Dalam kondisi kering, biasanya tali tambat kapal nilon memiliki kekuatan yang stabil meskipun dalam suhu yang rendah. Hal ini disebabkan kekuatannya lebih besar, meskipun demikian ukuran diameternya bisa lebih kecil dari tali manila. Adapun faktor keselamatannya sendiri bisa sampai 5x lebih besar dibanding tali tambat kapal manila.
  • Mempunyai ketahanan tinggi terhadap air asin/laut, tak mudah terpengaruh oleh bensin dan minyak tanah, kecuali tiner maupun bahan sejenisnya.
  • Daya renggang tali nilon cukup besar, karenanya jika diberi beban, tali tambat kapal ini akan memanjang, kemudian Kembali lagi ke bentuk awal Ketika beban di lepas. Memiliki daya elastisitas 2,5 hingga 3,5 kali dari tali manila.
  • Tali kapal ini juga tahan api, dengan kata lain akan meleleh dalam temperature 220 derajat C. Jika bagian pada tali yang meleleh tersebut dipadamkan, justru apinya terus menjalar.

Anda dapat memperoleh tali tambat nilon di pasaran lewat berbagai macam ukuran, mulai dari berdiameter 20 mm-20 cm. Akan tetapi, harganya tergolong cukup mahal bila dibandingkan dengan tali kapal manila. Kekuatan dan ukuran tali serat sintetis tersebut biasanya disesuaikan dengan jenis material yang dipakai pabrik pembuatnya. Karena itu, setiap produk tali sintetis akan berbeda antara yang satu dengan lainnya.

Baca Juga: 21 Jenis tali Menali yang Harus Diketahui Semua dan Penggunaannya

C. Tali Tambat Kawat Baja

Kelebihan tali kapal kawat baja ialah tahan lama serta mempunyai kekuatan yang bisa diandalkan. Umumnya tali tambat ini cukup baik dipakai untuk mooring perahu ke darat. Namun, jenis tali kapal ini tingkat elastisitasnya kecil, jadi bisa saja putus jika ditarik kuat-kuat. Adapun untuk menambah fleksibilitas pada tali tambat kapal tersebut, Anda harus memberinya inti pada serat yang memiliki kandungan minyak.

Tali kapal kawat baja cara pembuatannya berasal dari kawat yang dipintal, kemudian pintalan tersebut dinamakan strand. Selanjutnya, strand-strand tersebut terdiri dari bagian yang tidak berinti dan ada pula yang berinti. Lalu beberapa strand tadi dipintal membentuk tali.

Tali tambat kapal kawat baja biasanya digalvanis terlebih dahulu supaya tahan korosi, serta digunakan menjadi tali tambat kapal dan tali bongkar muat.

Jenis-jenis konstruksi pada tali baja, diantaranya : 6×7 yang memiliki inti tali, 6×9 yang dilengkapi inti tali, 6 x 24 dengan inti strand dan inti tali, 6 x 12 dengan inti strand dan inti tali, 6 x 37 yang dilengkapi oleh inti tali.

Sebagai informasi, angka 6 pada konstruksi tali kapal di atas ialah menunjukkan banyaknya strand yang terdapat pada tali kapal itu sendiri. Sedangkan angka belakangnya, seperti 7, 19,12, 37, 30, 24 menunjukkan banyaknya kawat baja pada tiap-tiap strand.

Kekuatan pada tali sesuai dengan SWL (Safe Working Load), yang mana tingkat SWL maksimum pada tali menunjukkan kekuatan putus minimum yang dibagi dengan faktor keamanan. Pada tali kapal ikat baja mempunyai faktor keamanan mulai dari 5 sampai 6, sedangkan pada tali serat sendiri 7 sampai 10.

Baca Juga: 6 Tipe Wire Rope Terpercaya Sesuai Kebutuhan Anda

Jenis dan Fungsi Mooring di Kapal

tali mooring

Sebenarnya istilah mooring maupun towing sendiri bisa dibilang sudah cukup familiar terutama bagi Anda yang bekerja di industri perkapalan. Mooring kapal biasanya mengacu terhadap aktivitas penambatan kapal di satu titik supaya kapal tidak bergerak. Sedangkan, istilah towing sendiri merupakan aplikasi menarik kapal.

Fungsi utama dari mooring ialah untuk mengamankan letak dan posisi kapal supaya tidak bergerak walaupun diterpa gelombang dan angin kencang. Mooring kapal selain dilakukan Ketika berlabuh saat di Pelabuhan, tetapi juga dapat dilakukan sesuai kebutuhan kapal, seperti di tengah-tengah kapal.

Berikut ini, ada beberapa jenis mooring kapal yang sering dipakai, diantaranya :

  • Spread Mooring

Dalam mooring system ini biasanya tak memungkinkan untuk kapal berputar atau bergerak dalam posisinya, Ketika ada gangguan seperti arus, angin serta gelombang yang relatif kecil. Akan tetapi dalam sistem mooring kapal ini bisa menyebabkan beban lingkungan pada kapal akan semakin besar, sehingga bisa meningkatkan jumlah line tension atau mooring lines. Biasanya untuk mooring system ini dipakai 1 set anchor legs bersama mooring lines dan terletak diantara posisi stern dan bow kapal.

Spread mooring bisa diterapkan di setiap jenis kapal, tapi tetap mempertimbangkan fasilitas produksi yang ada di bagian kapal. Dalam sistem mooring kapal inilah, biasanya peralatan offloading terletak pada stern atau bow kapal,bisa juga memakai buow khusus untuk digunakan sebagai sarana perpindahan cargo.

  • Turret Mooring

Sistem mooring kapal ini memungkinkan kapal untuk dihubungkan pada turret, dimana melalui adanya bearing bisa membuat kapal berputar. Jika dibandingkan sistem spread mooring, dalam sistem ini umbilical dan riser akan lebih banyak diakomodasi lagi. Sistem turret mooring kapal bisa berbentuk internal turret atau external turret.

Selain itu, external turret bisa diposisikan pada stern atau bow kapal, di bagian luar pada lambung kapal, sehingga memungkinkan kapal bisa berputar sampai 360 derajat serta dapat beroperasi dalam kondisi cuaca ekstrim atau normal. Biasanya chain leg akan ditanam di bagian dasar laut memakai piles atau anchor. Memiliki biaya pembuatan yang lebih terjangkau daripada internal turret, serta modifikasi pada kapal pun tak akan terlalu banyak.

Di samping posisi pada turret, perbandingan lainnya dengan jenis internal turret ialah posisi pada chain table. Biasanya chain table akan diletakkan di bagian atas water level pada external turret, sementara itu dalam internal turret sendiri, posisi chain table dibuat terendam sampai di bagian bawah garis air.

Sistem ini biasanya diaplikasikan di perairan dangkal atau tak terlalu dalam, contoh aplikasinya yaitu pada FPSO Anoa Natuna. Lain halnya dengan aplikasi internal turret, adapun keunggulan dari sistem mooring kapal ini yaitu bisa terpasang secara permanen atau tidak, bisa diaplikasikan di lapangan yang kondisinya biasa saja sampai ekstrim, serta menyesuaikan kedalaman air. Sistem mooring kapal ini bisa mengakomodasi riser sampai 100 unit dengan kedalaman laut mencapai 10.000 feet.

  • Tower Mooring

jenis tali mooring

Pada sistem mooring ini FPSO/FSO disambungkan ke tower memakai permanent/temporary hawser atau permanent wishbones. Sistem mooring kapal ini cocok digunakan pada aplikasi laut dangkal sampai sedang yang arusnya cukup kuat. Adapun keuntungannya ialah transfer fluida dilakukan sederhana, memakai jumper hoses ke kapal dari tower, akses langsung menuju tower dari kapal, modifikasinya pada kapal juga tak terlalu banyak, serta seluruh mechanical equipment berada di atas sea level. Di samping itu, beberapa fasilitas lain bisa diletakkan di bagian atas pada tower deck, diantaranya ada pig receiver, yoke, supporting surface fasilities, dan rotating assembly.

  • Buoy Mooring

Adapun yang dimaksud dengan buoy mooring disini ialah penanda yang umumnya diposisikan di laut supaya kapal tak merapat, mengingat kedalaman lautnya terlalu dangkal. Biasanya buoy berwarna terang dengan tujuan agar gampang dikenali saat dilihat dalam jarak jauh. Selain itu, mooring buoy telah dilengkapi oleh beban yang bobotnya lebih berat jika diletakkan di bagian dasar laut, dan dinamakan sebagai sinker.

Selanjutnya sinker akan dihubungkan pada buoy mooring kapal memakai shackle dan rantai. Adapun Panjang rantai ini biasanya digunakan 2 kali kedalaman laut di area pemasangan buoy mooring kapal itu sendiri. Tujuannya supaya buoy tetap ada di dalam radius yang sudah ditentukan, kemudian jika terjadi pasang surut pada air laut, buoy tetap bertahan di atas permukaan air. Di bagian atas pada buoy ada bagian tertentu yang mengarah ke atas, dan biasanya dijadiakan tempat penambatan tali.

Jadi ada 2 kelebihan memakai buoy. Kelebihan pertama kapal tak perlu lagi melepaskan jangkar hingga kedasar laut, posititfnya ekosistem laut akan tetap terjaga. Yang kedua, kapal bisa merapat pada jarak aman dengan demikianan kemungkinan kecil sekali kapal besar membentur bagian daasar laut.

  • Medditeranian Mooring

Medditeranian mooring bisa dikatakan sebagai gabungan anchoring, docking dan rafting yang  biasanya dipakai di area yang hanya mempunyai sedikit ruang serta jangkauan pasarng surut. Pada prinsipnya, Anda menjatuhkan jangkar di tengah Pelabuhan dan mengikat buritan ke dermaga.

Perlengkapan Tali Tambat Kapal di Megajaya

Apakah Anda membutuhan perlengkapan tali tambat kapal yang kuat untuk menambat kapal atau perahu Anda? Jika ya, Megajaya dengan merek Powertec siap membantu Anda mendapatkan tali tambat kapal yang kuat. Ada berbagai macam ukuran dan jenis tali kapal yang dijual di Megajaya dengan harga kompetitif. Jika Anda tertarik, cek Megajaya.co.id dan temukan produk yang sesuai untuk aktivitas mooring Anda!